Renungan
MARTIR
FX. YULIANTO
 
“… janganlah kamu kuatir akan bagaimana dan akan apa yang harus kamu katakan, karena semuanya itu akan dikaruniakan kepadamu pada saat itu juga” ( Mat 10: 19)
            Ditengah-tengah arus perkembangan zaman yang begitu pesat ini. Ada banyak hal praktis yang berjalan bersamaan dengan datangnya keperluan hidup itu. Hampir semua manusia mengharpkan serba praktis dan cepat; Instan dan mudah. Hal itu tiada lain demi meninjau kehidupan yang menyenangkan, damai dan sejahtera. Orang-orang cenderung lebih senang diam dalam zona nyamanya, ketimbang harus bersusah payah mempertahankan hidup dan berjuang demi orang lain.
Siapa? Siapa orang yang mau direndahkan? Siapa orang yang mau dihina, dilecehkan, dan tak dianggap?
Aku pernah mengalami masa-masa keresahan semacam itu, masa yang menurutku adalah beban yang harus dimaknai sebagai pelajaran hidup.
Kala itu aku baru menginjakan kaki di Sekolah Dasar Negri. Memulai perjalanan studiku dengn masa yang pernuh ketakutan dan was-was. Sebagai seorang anak kampung yang baru saja berpisah jauh dari orang tuanya. Aku merasa sendiri di keramaian orang. Memang ada kaka perempuankuku di bangku kelas empat. Namun tetap saja aku merasa kawatir ketika ditinggal sendiri
. Singkat cerita, dikelasku terdapat anak guru yang mempunyai banyak teman. Mereka sering nakal dan sering menjaili anak-anak perempuan. Hal  itu membuatku semakin takut dan minder. Banyak pemikiran buruk yang selalu mengganggu kedamaian hatiku. Pada suatu hari di ramainya istirahat siang aku didatangi anak guru itu. Pada awalnya ia meminta enam lembar kertas dariku. Namun karena banyaknya kertas yang ia minta, maka sudah pastilah bukuku akan habis. Oleh karena itu, secara naluri aku tidak memperbolehkanya. Entah bagaimana pemikirannya, tiba-tiba ia mengejeku dengan tak henti-hentinya, aku yang merasa sendirian hanya bisa menunduk dan diam seribu bahasa. Aku membiarkan dirinya meluapkan emosinya kepadaku. Sampai beberapa saat kemudian ia naik keatas mejaku dan menjejakan kakinya keperutku dengan begitu keras. Sejauh itu aku masih diam, sabar. Sabar karena aku ingat pesan orang tuaku “belajar yang bener ya yul,…biar pinter,…  jangan nakal-nakal di sekolah ya”. Tidak lama kemudian anak itu pergi, mungkin karena telah kualahan menghadapi ketegaran hatiku. Aku sungguh merasa lega. Puji Tuhan, semuanya indah pada waktunya.
Ketika kita mendengar bahwa Yesus mengutus kedua belas muridnya ke kawanan srigala, apa yang anda rasakan? Berat? Atau apa? Secara pribadi aku merasakan berat, pahit dan putus asa. Bagaimana tidak, lihat barapa ratus martir yang mati karena demi kristus. Mereka disiksa, diceraiberaikan dan dibantai habis. Tapi ingat, dan Sadarkah anda semua bahwa semuanya itu adalah sesuatu yang mulia. Karena mereka telah mewartakan kabar gembira dan telah mencapai garis akhir dengan baik. Kita tidak perlu panik-panik mencari pembelaan diri, karena kristuslah sendiri yang akan menjawabnya. Ia menjanjikan senjata yang paling ampuh, yaitu Roh Kudus, Roh Bapa sendiri yang hadir di tengah-tengah kita. Percayalah bahwa Tuhan tidak akan diam, Dia akan bertindak tepat pada waktunya dan akan memberikan keselamatan bagi orang yang bertahan  demi namanya. Tuhan memberkati.

Komentar