MENGAWALI HARI DENGAN SEUNTAI KATA
FX. Yulianto

                Namaku Faransiskus Xaverius Yulianto biasanya teman-teman memanggilku Frans atau Yuli. Kini umurku hampir 20 tahun, sama dengan anak-anak sepantaraanku yang lahir pada tahun 98-an. Aku berasal dari Des. Ujungmanik, Kec. Kawunganten, Kab. Cilacap. Aku bukan berasal dari kota, melainkan dari desa yang terpencil di sudut kota cilacap. Namun, walaupun demikian aku mempunyai seuntai kata yang akan mengubah segalanya.
            Tepat pada tanggal 6 Juni 2017, aku memulai kehidupanku sebagai pranovis OMI. Berlandaskan tekad dan niat, aku menelusuri hari ke hari tanpa bimbang. Bagiku semuanya adalah rahmat, meskipun aku merasakan manis dan pahitnya hidup di tempat ini. Ibaratkan sebuah rumah tangga yang bermasalah, apabila keluarga tersebut sudah tidak mempunyai kasih dan tujuan. Sudah pastilah keluarga itu akan hancur. Sama halnya kehidupanku di masa pranovis ini. Apabila aku sudah tidak mempunyai kasih dan tujuan, sudah pastilah aku sudah mengundurkan diri. Lebih baik aku mencari jalan lain yang lebih berarti daripada menderita karena keterpaksaan. Arti dari semuanya adalah karena aku masih mempunya seuntai kata untuk terus maju, “ Ini aku, Utuslah aku!” (Yes 6:8). Aku masih punya niat untuk berusaha, untuk berproses, dan untuk terus belajar.
            Aku telah melewati roda kehidupan yang cukup berwarna. Berawal dari penyesuaian diri selama tiga bulan, probasi kerja selama sebula dan probasi sosial. Aku banyak belajar dari kedua  probram probasi tersebuat setidaknya aku telah belajar mengenai pelayanan, megasihi, berkerja keras, kesabaran, rendah hati, peduli, ikhlas, dan masih banyak lagi yang aku dapatkan. Semuanya aku lewati dengan hati gembira dan lapang dada. Bagiku ini seperti bekal yang akan mempermudah jalan panggilanku atau pun seperti alat yang akan membantuku berjalan di jalan yang berliku-liku ini. Cepatnya waktu yang aku lewati membuktikan bahwa semuanya berjalan seturut kehendak yang semestinya. Waktu yang telah aku lewati kurang lebih delapan bulan itu, seperti sebongkah es yang mencair karena semilinya angin. Aku begitu menikmati masa-masa pranovis ini dengan begitu banyak pengalaman baru. Sehingga “seuntai kata” yang tertanam dalam diriku memuncak menjadi sebuah jalan yang mengantarkanku pada titik yang indah. Namun kata indah bukan berarti mudah untuk dilalui ataupun dimaknai. Sebab, aku tetap harus banyak mengolah kepribadianku, seperti bidang Akademik, hidup rohani, kepribadian, hidup komunitas, dan pastoral.
Apabila aku lihat dari sisi segi akademik, aku adalah salah satu anak yang mempunyai daya tangkap yang rendah. Hal itu dibuktikan dengan prestasi yang saya dapatkan ketika aku masih berstatus sebagai seorang seminaris. Sering kali prestasiku hanya berkutik pada rengking pertengahan saja. Aku lebih mudah menangkap materi yang dilakukan secara langsung dilapangan. Ketimbang aku harus duduk mendengarkan materi selama berjam-jam. Namun bagiku bidang akademik bukanlah ujung tombak bagi segalanya, karena dari 34 anak yang mendaftar bersamaku di Seminari stella Maris Bogor hanya ada 17 orang saja yang berhasil melewati sempitnya jalan seminari. Puji Tuhan, aku ada diantara anak-anak yang lulus itu. Sehingga aku merasa bahwa aku mempunyai panggilan untuk terus melangkah menanggapi panggilanku. Maka dari segala kekuranganku itulah aku ingin mempersembahkan segalanya untuk melangkah bersama kongregasi OMI.
Dari tempat ini, aku menemukan arahan hidup yang jelas. Terutama mengenai hidup doaku yang dahulu sering terabaikan. Aku seraya dibimbing mengolah hidup rohaniku. Berawal dari hal-hal yang sangat sederhana. Seperti mengawali sepatah kata syukur di pagi hari. Pelan namun pasti, aku menemukan suatu perasaan yang begitu kuat adalam diriku. Seperti suatu kebahagian yang tidak bisa kuungkapkan. Semakin lama aku semakin diarahkan masuk kedalam keperibadianku. Aku merasa diarahkan untuk me-restart ulang segala segi kehidupanku yang dahulu. Melalui hidup berkomunitas dan pastoral aku seperti banyak menemukan arti diri bagi sesama. Begitu juga dengan kehidupan komunitas novisiat yang sedemikian rupa membuatku semakin dimurnikan dalam menetukan panggilanku. Aku merasa telah menemukan jalan dan pembimbing hidup yang baru.
Hingga pada akhirnya aku memutuskan untuk terus melangkah. Aku inngin hidupku ini berguna bagi Gereja dan kaum yang tidak terlayani. Aku ingin memasuki masa yang lebih kongkrit. Mengabdikan diri sepenuhnya dalam balutan jubah novis Oblat Maria Imakulat.
L.J.C et M.I
Yogyakarta, 13 Maret 2018

Komentar