SEBUTIR PASIR DI PADANG GURUN
FX.
Yulianto
Aku
melihat sebuah kesederhanaan, bahkan sederhana sekali. Di depan mataku, sebuah “daster”
berwarna putih menyilaukan membuatku tersenyum. Tapi itulah yang dinamakan
jubah, yang membuat hati siapapun yang memandanginya merasa tenang dan bahagia.
Kupandangi kembali jubah putih itu. Aku masih merasa heran dengan jubah itu,
begitu sederhana dan indah. Namun, aku juga merasa bingung karena jubah itu
memancarkan kebahagiaan yang tidak dapat dilukiskan dengan kata-kata. Mungkin
karena aku akan mengenakannya sebagai tanda perpanjangan karya tangan Allah. Meskipun
demikian, jubah adalah sesuatu yang mulia bagiku karena lewat jubah itulah aku merasa
dimuliakan dan diberi rahmat dari Tuhan.
Bayangku
terarah melewati waktu yang panjang, aku telah menantikan saat-saat yang
terindah. Saat aku mengenakan jubah dalam gandengan tangan Tuhan. Bermula dari
tingkat dua Seminari Bogor hingga detik ini, aku masih menantikan saat-saat
itu. Pernah sesekali aku merasakan kebahagiaan yang begitu besar tentang jubah,
tepatnya ketika aku bertugas sebagai misdinar di Gereja Keuskupan Bogor.
Berbeda dengan beberapa keuskupan lainnya, Keuskupan Bogor menggunakan jubah
berwarna hitam dan superpli sebagai
pakaian pelayan liturginya. Meskipun hanya jubah misdinar, aku merasakan kebahagiaan yang tak terkira. Aku
berharap dapat memiliki jubah yang pernah kukenakan itu. Maka dalam satu kesempatan,
ketika aku merayakan misa Acies
bersama teman-teman legioner, aku memberanikan diri untuk meminjam jubah misdinar
untuk sekedar berfoto. Melihat ketertarikanku yang sedemikian besar, temanku
dari kelas KPA berniat memberikan jubah hitam misdinarnya untuk diriku. Jujur,
aku sangat tertarik dengan tawaran itu. Namun pada akhirnya aku lebih memilih
meninggalkan jubah itu. Sebab, jika dilihat-lihat jubah itu akan lebih berguna
apabila diberikan untuk adiknya atau teman-temannya. Lagipula provinsi OMI Indonesia
memilih warna putih sebagai warna jubahnya.
Kini
aku sudah di ujung tanduk, bukan karena kesesakan, melainkan kebahagiaan. Aku
akan memulai hidup baru bersama jubah warna putih itu. Bukan hanya sendiri, melainkan
bersama Kristus Sang Maha Agung. Ini adalah titik awal sebuah perjalanan yang
jauh, melewati jalan yang berliku dan asing.
Sama seperti yang telah kutuliskan, kesederhanaan. Aku telah memasrahkan
kehendakku demi kesederhanaan yang lebih mulia. Jubah itulah lambangnya. Ia
akan menjadi mesin waktu yang selalu mengingatkanku di saat aku mulai “merengek”.
Akupun tahu, bahwa perjalanan ini tidak akan mudah, ataupun sehebat
cerita-cerita superhero yang telah kubaca.
Namun setidaknya aku akan menuliskan cerita superhero-ku
sendiri, agar apa yang telah lama terpendam dalam diriku dapat aku bagikan
dengan orang-orang yang kusayangi.
Jubah adalah Sakramen
Jubah
adalah sakramen. Sebagaimana yang dimaksudkan oleh Gereja bahwa arti sakramen
adalah tanda keselamatan yang diberikan oleh Allah untuk manusia. Jika dilihat menurut asal katanya sendiri sakramen berasal
dari kata sacramentum yang berati
kudus atau hal-hal yang berbau suci. Sehingga manusia pun bisa menjadikan
apapun sebagai sakramen, selagi hal itu menghantarkan dirinya pada kasih Allah.[1]
Maka dari itu, secara pribadi aku mengartikan jubah sebagai lambang keselamatan
Allah yang diberikan khusus untukku.
Lewat
jubah itulah aku menghayatinya sebagai kasih, harapan, dan iman, karena dari
dalamnya, Kristus hadir dan memancarkan sebuah tanggung jawab yang besar kepada
diriku. Selain itu setiap kaum berjubah harus memancarkan kasih Allah.
Menandakan bahwa jubah itu suci dan mempunyai daya positif bagi orang lain.
Tidak terlepas dari itu pula, aku selalu mengingat, bahwa apa yang telah
dimulai oleh Allah tidak akan kembali dengan tangan hampa.
Aku
lihat kembali jubah putih yang ada di depanku. Warnanya masih putih bersih.
Pengancingnya terlihat begitu kuat dan berderet rapi. Namun berbeda dengan
jubah di sebelahnya. Warnanya sudah mulai menguning, jubah itu juga tidak
menggunakan kancing baju dan modelnya pun berbeda. Hal inilah yang akan kuhayati
dan kurasakan, bahwa kaum berjubah pun mempunyai tugas yang berat. Ia akan
menyusuri waktu hingga warna putih menguning, ia akan mengalami pergulatan
hingga kancing jubah terlepas, dan ia harus merendahkan hati demi
saudara-saudarinya serta jubah-jubah yang lain. Namun ketika aku melihat lagi
salib yang tergantung di leherku, ini hanyalah sebutir pasir di padang gurun,
ataupun setetes embun di pagi hari. Sebab, tugas ini tidaklah lebih besar daripada
penderitan Tuhan Yesus.
Maka, menjadi
pertanyaan bagiku adalah, apakah aku siap mengenakan tanda karya keselamatan
Allah?
“Ini
aku, Utuslah aku”[2]. Aku dengan mantap
menyatakan kesiapsediaanku untuk terus berjalan bersama Sang Juru Selamat.
Sebab bukankah aku ini adalah gambaran dan rupa Allah yang mempunyai kuasa atas
panggilan Allah? Bukankah aku yang lemah dan hanya sebutir debu telah dimuliakan
oleh Allah dengan darah-Nya, dipanggil dan diberi bekal untuk menjala manusia? Iya,
rasa-rasanya itulah yang kudengar dari bisikan Allah kepadaku. Namun,
“Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataan-Mu
itu”[3].

Komentar
Posting Komentar
kata-kata adalah doa yg baik.