REFLEKSI
MENGALAH KARENA KASIH
FX. YULIANTO

“Kasihilah musuhumu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu”
( Mat 5: 44)

                        Sering kali banyak orang merasa sakit hati bila dirugikan. Merasa tidak terima bila orang lain merasa senang, dan diri sendiri mendapat kesengsaraan. Maka, tidak heran bila banyak perselisihan yang terjadi diantara sesama manusia. Masalah ini bukan hanya terjadi sekali atau pun dua kali, melainkan berkali-kali. Gangguan-gangguan ini biasanya berasal dari luar diri, tetapi bila diteliti kembali, diri sendirilah yang sebenarnya belum menenal kasih sesungguhnya. Kasih yang nyata, yang pernah ada dan hidup di sekitar manusia, yakni Yesus Kristus. Setiap pribadi merasa mengenal kristus dalam hidupnya, namun gerak-gerik dan sikap seringkali jauh lebih baik bila tidak mengucapka-Nya. Hal ini dikarenakan manusia lebih suka mengikuti hawa nafsu diri ketimbang berkorban demi kebahagiaan orang. Manusia lebih tertarik pada kesenangan diri ketimbang kebahagiaan orang lain. Berbeda dengan ajaran Kristus yang Ia sampaikan kepada para murudnya. “Kasihilah musuhumu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu”.
Sekali peristiwa aku pernah merasakan kebencian yang begitu mendalam. Kejadian ini aku rasakan ketika aku masih duduk di bangku SMP. Waktu itu aku mendapatkan perselisihan dengan kelompok masa orentasi sekolah, karena waktu itu aku baru masuk SMP. Entah bagaimana pemasalahhan pada awalnya sehingga kebencian ini bisa berlangsung begitu lama. Sesekali aku sering mendapatkan perlakuan tidak baik dari orang itu. Namun aku masih bisa sabar dan menahan emosi. Hal ini bukan semata-mata aku tidak berani atau pun takut dengan segerombolan genk-nya. Namun terlebih karena aku tidak mau mengecewakan orang tuaku apabila aku mendapatkan masalah di sekolah.
Kebencian ini berakhir pada hari sabtu pukul 08.30 WIB. Saat itu, aku yang berekstrakulikuler taekwondo sendang bersantai-santai di kantin, sebab sabem (pelatih taekwondo) tidak hadir pada hari itu. Dalam keadaan yang tenang dan penuh canda tawa tiba-tiba kepalakuku dipukul dari belakang. Maka secara reflek aku langsung membalasnya dengan membawa ia ke tempat lapang. Tapi belum sempat aku melanjutkan aksiku, aku sudah terlebih dahulu dilerai oleh teman-temanku. Memang perkelahian kecil sempat terjadi. Tapi perkelaian itu terjadi atas dasar pembelaan diriku dari serangan lawan. Singkat cerita, pergulatan itu tidak lama terjadi, karena guru segera menjewerku. Kami berdua dibawanya keruang BK. Begitu aku duduk di ruang BK, banyak guru keluar masuk menjadi penengah dalam kasus kami. Selama ± satu jam kami diadili, dan pada akhirnya aku dianggap benar oleh saksi yang ada. Maka, aku berani mengajukan perdamaian kepada musuhku. Bahkan setelah perdamaian itu, ia berani bertegur sapa denganku. Begitu juga dengan genk-nya yang mulai segan ketika aku lewat di depan mereka.
Ternyata perkelahian ini adalah suatu penyelesaian akhir bagi kebencianku. Aku yang sejak dahulu merasa sesak dan lelah karena kebencian itu, kini telah sirnah dan berubah menjadi sukacita dan kelegaan. Andai saja tidak terjadi peristiwa ini mungkin aku masih membawa kebencian itu sampai sekarang. Hingga kini, pengalaman itu membuatku terinspirasi akan sebuah pengorbanan, pengampunan, dan kasih. Ia yang memberikan hidup adalah benar, benar atas ajaranya dan baik dalam penyelesaiannya.
Lalu,.. bagaimana dengan diri Anda sendiri, apakah anda pernah mengampuni musuh-Mu? Apakah anda pernah mendoakanya agar ia menjadi lebih baik, ataukah sebaliknya?


Komentar