FX. YULIANTO

 
                                                    KASIH
 “Ketika Tuhan melihat janda itu, tergeraklah hatinya oleh belas kasihan lalu ia berkata kepadanya, “ jangan menangis””.
            Memang benar kata Rm. Santo, bahwa kasih tidak akan habis untuk dikuak. Kasih akan terus hidup selama dunia ini masih berputar. Selama matahari masih mampu bercahaya, niscaya pahit-manis, hitam-putih, dan bahkan kelabu akan terus berputar. Begitu juga dengan kasih itu sendiri, ia akan berevolusi menjadi garam dunia, atau mungkin menjadi pohon yang rindang, yang dapat menaungi segala cakrawala. Tapi tetaplah ingat bahwa kasih tidaklah selalu mudah untuk dilakukan. Ada banyak bahaya, ada banyak godaan dan ada banyak tanggung jawab yang harus dipikul ketika menapakinya. Berat? Memang berat! Tapi mari kita cek kembali pondasi kasih kita masing-masing. Apakah pondasi cinta kasih kita sudah kuat. Sebab, Sadar atau tidak sadar kita semua pernah merasakannya. Sadarilah saudara itu semua karena kasih.
            Aku punya sebuah pengalaman yang indah, yang mungkin dapat dikatakan sebagai kasih seorang ayah kepada anakanya.
            Kala itu aku baru saja masuk di Seminari Menengah Stella Maris Bogor, mungkin kira-kira baru tiga bulan berjalan. Mungkin saat itu adalah saat-saat yang menyenangkan bagi diriku untuk mengenal jalan panggilan Tuhan. Tapi tetaplah tapi, sial tetaplah sial, aku harus terjerat masalah serius dengan staf. Aku akan dikeluarkan karena kelalaianku, apabila aku tidak menebus hukumanku dengan uang sebesar Rp. 500.000. Baru saja aku bersenang-senang dengan teman baru, kini aku harus menanggung beban  yang berat. Perasaan pusing, bingung, takut, khawatir dan ketersendirian berderu kencang dalam batinku, sebab aku tidak mempunyai uang lagi untuk menebus kesalahanku itu. Aku benar-benar tersesat dalam tubir yang paling dalam. Satu-satunya jalan yang ada setelah Tuhan adalah orang tua, itulah pengharapan terakhirku. Namun sesungguhnya aku takut, berita yang aku sampaikan itu akan membuat orang tuaku menjadi bingung dan tidak tenang. Sehingga aku berusaha meminjam uang kepada saudaraku yang ada di lain kota.
Singkat cerita, ketika aku sedang mengikuti pelajaran PKN di kelas, kaka tingkatku memangilku, katanya ada seseorang yang ingin bertemu denganku. Dalam hati aku terbayang akan keusilan kaka tingkat yang biasanya jahil. Namun ketika aku sampai di depan kapel seminari, aku terkejut, ternyata ayahku datang dari kampung. Ternyata saudaraku menceritakan permasalahhan yang aku hadapi kepada orang tuaku. Ia berkata bahwa setelah mendengar ceritaku dari ibu, ia langsung menggadaikan sawahnya demi diriku. Belum sempat beristiahat dari kebun, ia langsung membeli tiket bus malam jurusan kota Bogor. Aku sempat meneteskan air mata karena kebodohanku itu, dan berjanji untuk tidak mengulanginya lagi. Sebab, tanpa sepengetahuan ayahku, aku mengtahui bahwa sebenarnya ia sedang memikul salibnya yang berat, ia sedang sakit.
Kasih, kasih, kasih,…itulah sepenggal kata yang pernah St. Eugenius ucapkan sebelum ia pulang ke rumah Bapa. Pesan ini bukanlah anjuran, melainkan tugas yang harus kita jalankan. Karena sesunguhnya iman tanpa perbuatan pada hakekatnya adalah mati.
Dalam injilnya pada hari ini, Yesus telah menunjukan belas kasih yang besar. Coba bayangkan saja, hanya karena seorang janda, ia mau menghidupakan kembali orang yang sudah mati. Bagi manusia biasa, tindakan semacam itu bukanlah tindakan yang sederhana. Namun Yesus mau bersusah-susah dan mau melaukannya demi satu hal, yakni kasih.
Kita adalah nabi, raja dan imam, sudah selayak dan sepantasnya kita menjadi tangan kanan Allah. Kini, bagaimana dengan kita? Sejauh manakah kita berbuat kasih, kasih yang tulus, yang berdasar pada ajaran kristus?

Komentar