|
“Ketika Tuhan
melihat janda itu, tergeraklah hatinya oleh belas kasihan lalu ia berkata
kepadanya, “ jangan menangis””.
Memang
benar kata Rm. Santo, bahwa kasih tidak akan habis untuk dikuak. Kasih akan
terus hidup selama dunia ini masih berputar. Selama matahari masih mampu
bercahaya, niscaya pahit-manis, hitam-putih, dan bahkan kelabu akan terus
berputar. Begitu juga dengan kasih itu sendiri, ia akan berevolusi menjadi
garam dunia, atau mungkin menjadi pohon yang rindang, yang dapat menaungi
segala cakrawala. Tapi tetaplah ingat bahwa kasih tidaklah selalu mudah untuk
dilakukan. Ada banyak bahaya, ada banyak godaan dan ada banyak tanggung jawab
yang harus dipikul ketika menapakinya. Berat? Memang berat! Tapi mari kita cek
kembali pondasi kasih kita masing-masing. Apakah pondasi cinta kasih kita sudah
kuat. Sebab, Sadar atau tidak sadar kita semua pernah merasakannya. Sadarilah
saudara itu semua karena kasih.
Aku punya sebuah pengalaman yang
indah, yang mungkin dapat dikatakan sebagai kasih seorang ayah kepada anakanya.
Kala itu aku baru saja masuk di
Seminari Menengah Stella Maris Bogor, mungkin kira-kira baru tiga bulan
berjalan. Mungkin saat itu adalah saat-saat yang menyenangkan bagi diriku untuk
mengenal jalan panggilan Tuhan. Tapi tetaplah tapi, sial tetaplah sial, aku
harus terjerat masalah serius dengan staf. Aku akan dikeluarkan karena
kelalaianku, apabila aku tidak menebus hukumanku dengan uang sebesar Rp.
500.000. Baru saja aku bersenang-senang dengan teman baru, kini aku harus
menanggung beban yang berat. Perasaan
pusing, bingung, takut, khawatir dan ketersendirian berderu kencang dalam
batinku, sebab aku tidak mempunyai uang lagi untuk menebus kesalahanku itu. Aku
benar-benar tersesat dalam tubir yang paling dalam. Satu-satunya jalan yang ada
setelah Tuhan adalah orang tua, itulah pengharapan terakhirku. Namun
sesungguhnya aku takut, berita yang aku sampaikan itu akan membuat orang tuaku
menjadi bingung dan tidak tenang. Sehingga aku berusaha meminjam uang kepada
saudaraku yang ada di lain kota.
Singkat
cerita, ketika aku sedang mengikuti pelajaran PKN di kelas, kaka tingkatku memangilku,
katanya ada seseorang yang ingin bertemu denganku. Dalam hati aku terbayang
akan keusilan kaka tingkat yang biasanya jahil. Namun ketika aku sampai di
depan kapel seminari, aku terkejut, ternyata ayahku datang dari kampung.
Ternyata saudaraku menceritakan permasalahhan yang aku hadapi kepada orang
tuaku. Ia berkata bahwa setelah mendengar ceritaku dari ibu, ia langsung
menggadaikan sawahnya demi diriku. Belum sempat beristiahat dari kebun, ia
langsung membeli tiket bus malam jurusan kota Bogor. Aku sempat meneteskan air
mata karena kebodohanku itu, dan berjanji untuk tidak mengulanginya lagi.
Sebab, tanpa sepengetahuan ayahku, aku mengtahui bahwa sebenarnya ia sedang
memikul salibnya yang berat, ia sedang sakit.
Kasih,
kasih, kasih,…itulah sepenggal kata yang pernah St. Eugenius ucapkan sebelum ia
pulang ke rumah Bapa. Pesan ini bukanlah anjuran, melainkan tugas yang harus
kita jalankan. Karena sesunguhnya iman tanpa perbuatan pada hakekatnya adalah
mati.
Dalam
injilnya pada hari ini, Yesus telah menunjukan belas kasih yang besar. Coba
bayangkan saja, hanya karena seorang janda, ia mau menghidupakan kembali orang
yang sudah mati. Bagi manusia biasa, tindakan semacam itu bukanlah tindakan
yang sederhana. Namun Yesus mau bersusah-susah dan mau melaukannya demi satu
hal, yakni kasih.
Kita adalah
nabi, raja dan imam, sudah selayak dan sepantasnya kita menjadi tangan kanan
Allah. Kini, bagaimana dengan kita? Sejauh manakah kita berbuat kasih, kasih
yang tulus, yang berdasar pada ajaran kristus?

Komentar
Posting Komentar
kata-kata adalah doa yg baik.