REFLEKSI ZIARAH DAN REKREASI
HIDUP KAUL ITU
“RELIGIUS 24 HINGGA TUJUH”
FX. Yulianto
·
TERKEJUT TAPI NGGAK JANTUNGAN
Terkejut dan senang,
itulah gambaran perasaaan yang pertama kali saya rasakan. Memang sedikit aneh
dengan kata terkejut yang saya ungkapkan. Tapi perasaan itulah yang mengalir
bersamaan dengan kabar baik yang saya dengar. Bukan dari dalam komunitas saya
mendengar kabar itu, tapi dari salah seorang PPdM. Sebenarnya kabar itu telah
disampaikan oleh Rm. Santo OMI dalam rapat komunitas empat hari sebelumnya. Tapi
saya saja yang tidak mendengarkannya dengan baik sehingga tidak menyadarinya. Maka
dari itu, saya merasakan ada kejutan sekaligus penghiburan di hari itu. Jika
ditanya mengapa saya senang? Maka dengan tegas saya akan menjawab “karena saya
akan berziarah (jalan-jalan, dan doa) sekaligus berekreasi (penghiburan)”.
Kedua perasaan yang saya
alami itu menghantarkan diri saya pada sebuah harapan. Harapan akan sebuah
pengalaman baru yang menyegarkan jiwa. Ada sebuah keinginan dimana saya ingin
disegarkan kembali dari kesibukan harian. Lewat ziarah dan rekreasi inilah saya
berharap bisa menemukan oase serta
titik pijakkan baru. Bukan hanya hura-hura semata, melainkan untuk perkembangan
diri yang lebih baik. Seperti sebuah selogan mengatakan pengalaman adalah guru
terbaik, dan saya merasa itu benar adanya.
Semoga saja di hari itu saya dapat menikmati acara itu dengan baik.
Menjelang keberangkatan
ziarah dan rekreasi bersama, saya tidak banyak melakukan persiapan. Kecuali
memenuhi persyaratan yang ditentukan oleh kelompok ziarah dan rekreasi.
Misalanya belajar koor bersama, rapat agenda selama disana dan packing perlengkapan pribadi. Mengenai
hal lain-lain, terutama yang berhubungan dengan batin saya pasrahkan kepada
Tuhan. Saya percaya di dalam Dia semuanya akan disempurnakan. Amin
·
POKOKNYA
NGGAK BOLEH TIDUR
Sekitar pukul tujuh pagi rombongan berangkat dari
Novisiat dengan kendaraan bus. Orang yang mengikuti ziarah dan rekreasi ini
sekitar 35 orang, mereka berasal dari komunitas pranovis, novis, PPdM, guru dan
pemerhati Novisiat. Tujuan perjalanan kami adalah Gua Maria Sendang Rosario
Ngijorejo, kunjungan dan misa di rumah Ibu Victoria, air terjun Sri Getuk, dan
hutan pinus Becici.
Semasa diperjalanan kami membukanya dengan berdoa, kebetulan
saya sendiri yang memimpinnya. Dengan demikian kami merasa mendapatkan
pengarapan, perlindungan dan penyertaan Tuhan ketika kami memohon rahmat
kepada-Nya. Mulai awal dari perjalanan kami hingga perhentian pertama, suasanya
yang tergambar adalah sukacita. Disana sini terdengar gelak tawa dan sorak
sorai. Apalagi iringan gitar dan nyanyian menambah serunya perjalanan. Bukti sukacita
itu adalah saya tidak sadar bahwa saya baru saja melewati perjalan lebih dari
satu jam.
Hal ini saya sadari ketika bus yang kami tumpangi berhenti di depan Gua Maria Sendang Rosario Ngijorejo. Tidak banyak hal yang kami lakukan kecuali berdoa rosario bersama di depan Gua Maria. Seperti biasa Rosario dipimpin oleh satu orang dan setiap Salam Maria didoakan secara bergantian. Meskipun keadaan cuaca sedang hujan gerimis, namun setiap orang dapat menikmati doa dengan khusuk.
Sekitar setengah jam kami berdoa dan selebihnya kami lanjutkan
dengan berfoto bersama. Baru kami gunakan untuk melihat-lihat keadaan sekitar.
Baru setelah itu kami melanjutkan perjalanan.
Kami sampai di Banaran dan kami disambut baik oleh
umat disana. Sungguh, ini adalah rahmat yang menyejukan bagi saya. . Semua
dapat bersukacita, bahkan tidak terkecualikan dengan cara khotbah romo Andri yang
unik. Dalam perayaan misa Ekaristi sendiri, saya menemukan sesuatu yang
menarik, yakni saya bergetar sewaktu bertugas mazmur.
Sebenarnya semua hal yang kami lakukan hanyalah
sesuatu yang biasa saja. Namun karena kebersamaan dan cinta, semua hal nampak
menjadi indah. Kebahagiaan mengalir begitu saja ketika ada pribadi yang mau
berbagi, entah berbagi cerita ataupun berbagi waktu.
Sangat sederhana namun penuh makna, demikianlah
pelajaran yang dapat saya petik dari perhentian pertama.
Setelah beramah-tamah selesai, saya beserta rombongan
melanjutkan perjalanan menuju air terjun Sri Getuk.
Dalam perjalanan itu saya banyak melihat pemandangan yang indah dan menyejukan.
Tanpa sadar saya merasa ada dorongan untuk terus menikmati alam. Rasanya
pemandangan itu membuat saya mengingat kembali pengalaman-pengalanan saya di
masa kecil. Saya pernah hidup dan tumbuh dari desa yang sejuk dan indah. Dari
sudut pandang inilah saya mengucapkan syukur pada Allah, bawasanya saya
mendapat banyak pelajaran dari alam.
Tetap sama dalam perjalanan sebelumnya, teman-teman
menyanyikan lagu di sepanjang pejalanan. Sukacita masih berkobar disana sini.
Apalagi cuaca yang indah menambah kesan bersahabat bagi kami. Bagia saya
sendiri, saya tetap bertingkah seperlunya sembari memperhatikan orang-orang di
sekeliling saya. Senang rasanya bisa berkumpul dan bergembira bersama.
BAYARAN MEMBELI AIR
|
Rombongan sampai di pintu gerbang air terjun Sri Getuk sekitar pukul satu siang. Sempat kami merasa bingung apakah perjalan akan dilanjutkan, sebab keadaan sungai sedang kurang baik. Hujan yang datang kemarin membuat warna air keruh. Belum lagi jalan yang harus di tempuh cukup jauh. Awalnya saya ragu jika harus berjalan sebegitu jauhnya hingga dua kilometer. Tapi setelah sampai di tempat tujuan dengan kendaraan truk, saya justru kecewa karena sebenarnya jalan menuju air terjun tidak begitu jauh. Jika saya tahu jarak sebenarnya mungkin saya akan memutuskan untuk berjalan kaki saja. Namun apa boleh buat, nasi sudah menjadi bubur. Saya hanya perlu mensyukurinya agar semuanya menjadi berkat.
|
Suasana di air terjun itu sangat
tenang. Tenang yang saya maksud adalah jauh dari kegaduhan manusia. Biasanya sebuah tempat wisata sangatlah
rampai, tapi di air terjun ini hanya ada kami dan suara riuh pecahan air yang
menabarak karang. Senang rasanya usaha saya telah terbayarkan. Meskipun saya
tidak berenang tapi saya cukup senang dengan berjalan-jalan disekitar air
terjun. Melihat tawa dan terikan teman-teman rasanya hati saya pun ikut senang.
Ibarat listrik yang dapat tersetrumkan kesegala arah.
RUAS-RUAS DAUN PINUS
Perjalanan kami berlanjut menuju
hutan pinus Becici. Bus yang kami tumpangi dengan cepat menghantarkan kami ke
tempat tujuan. Rasanya Kami tidak sabar untuk mendapatkan pegalaman baru. Maka
dari itu, langkah demi langkah saya lalui dengan menikmati setiap ruas jalan
yang saya lalui. Bersama teman-teman saya bercanda berfoto bersama. Saya coba
menerawang keagungan Allah dari tingginya pohon pinus di sekeliling saya.
Rasanya saya begitu kecil dengan melihat luasnya hamparan kota Jogjakarta.
Sembari menyusuri keindahan alam sekitar, saya terdorong untuk bersyukur dengan
keadaan diri saya yang apa adanya ini. Syukur karena saya diberi postur tubuh
yang cukup tinggi dan lengkap. Setidaknya saya masih dapat beraktivitas seperti
manusia pada normalnya.
|
|
Apa gunanya memperoleh harta berlimpah
namun di malam harinya nyawamu diambil? Demikianlah pemikiran yang sejalan
dengan perkataan Yesus pada injil-Nya. Dari sanalah saya diterangi agar menjadi
pribadi yang sederhana, bukan mengejar kehebatan pribadi. Dengan belajar
menjadi manusia yang rendah hati dan mengalah demi orang lain, saya sekehendak dengan
Yesus. Bukan harta di bumi yang harus dikumpulkan melainkan harta di surga. Saya
menyadari ruas-ruas hidup saya yang tak seapik
ruas-ruas pinus, maka dari itu, saya tidak berani untuk banayak berkata
tentang kebaikan dan kebenaran. Memang berkata mengenai dua hal itu saya mampu.
Tapi jika untuk melasayakanya saya tidak bisa berjanji. Karena itu, alangkah
baiknya jika saya tetap menerapkan spiritualitas syusayar. Dimana kata syusayar
menjadi titik tolak untuk mendapatkan rahmat kebahagiaan.
Bila melihat sepanjang perjalanan
saya, saya banyak mendapatkan kesempatan untuk bergembira.
Kesempatan-kesempatan itulah yang sebenarnya Allah tunjukan kepada diri saya.
kini bagaimana saya menyikapinya, apakah saya mau memilih untuk bergembira atau
tidak. Sebab, siapapun dimanapun, dan kapan pun setiap orang diberi kesempatan untuk bergembira.
Semoga apa pun yang telah saya
dapatkan dalam ziarah dan rekreasi itu, saya dapat menjadikannya sebagai bekal
perjalanan panggilan saya. Dengan demikian saya mendapatkan penyegaran baru
dalam menimba rahmat Tuhan. Begitu juga dengan kebersamaan dan sukacita yang
ada, semoga bukan hanya menjadi masalalu. Tapi menjadi motivasi sebagi
mendorong untuk selelu terarah pada kesempurnaan. Tuahan memberkati, Bunda Maria
melindungi.
UJUNG PERTOBATAN
Menyadari perjalanan saya yang
penuh makana itu, saya pun menemukan poin-poin pertobatan. Poin-poin pertobatan
itu berkaitan erat dengan masa prapaskah yang sedang berjalan ini, diantaranya:
berbagi berkat, serawung, ekologi, dan menyukuri apa pun yang diberikan Tuhan.
·
Berbagi Berkat
Saya sebagai frater novis merasa sangat diberkati
Tuhan. Bukan karena saya hebat dan mempunyai keahlian tertentu, melainkan
karena Tuhan sendirilah yang Maha Murah. Oleh karena-Nya, saya dimampukan untuk
terlibat dalam karya keselamatan-Nya. Salah satu yang dapat saya ambil contoh
adalah dengan acara ziarah dan rekreasi ini.
Dalam acara itu saya merasa bahwa Tuhan
sungguh-sungguh hadir lewat perjumpaan dengan teman-teman. Dengan bernyanyi,
bercanda-canda dan saling memperhatikan saya dapat memberikan berkat kepada
orang lain. Dengan demikian saya telah terlibat dalam masa prapaskah ini. Memang
hal semacam ini adalah hal yang sederhana. Namun dibalik ini semua saya telah
berhasil melaksanakan salah satu anjuran dari Bapa uskup Agung Semarang.
·
Serawung
Aplikasi ini sangatlah kentara dalam acara ini.Coba bayangkan saja, tidaklah mungkin saya
berdiam diri dari sekian bayaknya orang yang saya jumpai. Hal ini membuktikan
bahwa saya telah telah melaksanakan serawung. Baik kepda orang-orang satu
rombongan meupun orang yang yang saya jumpai sewaktu disana. Hanya saja apakah
orang yang saya jumpai tersebut telah merasa sukacita? Sebab jika orang yang
saya jumpai bersukacita, maka serawung yang saya lakukan berhasil. Tapi jika
orang yang saya jumpai justru bersedih hati, maka kesimpulanya saya telah
melakukan kesalahan. Dengan demikian kepribadian saya semakin jelas, terutama
atas proges dan regres.
·
Ekologi
Sepanjang perjalan ziarah dan rekreasi itu saya
mendapatkan banyak snack dan
perbekalan makannan. Hal ini memungkinkan saya untuk bertindak kurang baik,
yakni membungan sampah sembarangan. Tapi atas anjuran prapaskah Bapa Uskup
Agung Semarang, saya berusaha untuk menjaga kelestarian alam. Cara yang paling
mudah saya lakukan saat itu adalah membuang sampah pada tempatnya. Misalkan
pada saat saya berada di destinasi air terjun, pada saat itulah saya memegang
sampah dari awal datang hingga akhir rekreasi. Masalahnya karena di area itu
tidak disediakan tempat sampah. Maka saya simpan sampah itu hingga tempat
parkir, sebab disanalah baru ada tempat sampah.
Melalui kesadaran ini saya membangun niat untuk terus
melaukannya. Hal ini saya lalukan bukan semata-mata karena kurang kerjaan,
melainkan karena rasa syukur. Rasa syukur inilah yang menggerakan saya untuk
melaukan kebaikan. Sebab, menjadi rancu apabila mulut berkata syukur namun
tidak diimbangi dengan perbuatan yang nyata.
·
Mensyukuri apa pun yang diberikan
Tuhan
“Hidup ini adalah rahmat, jadi jangan disia-siakan”.
Demikian ungkapan hati saya kepada diri saya sendiri. Sudah lama saya
merenungkan bahwa kehidupan ini sangatlah berarti, sebab melalui hidup inilah
saya dapat menerima dan berbuat kasih. Oleh sebab itu, sudah menjadi
keseharusan apabila saya harus mensyukuri segala pemberian dari Tuhan. Karena
sejatinya segala pemberian itu adalah cuma-cuma dan harus dibagikan kembali.
Dalam pejalanan itu ada banyak hal yang saya sadari, salah satunya adalah “keistimewaan”.
Ibaratnya seperti harta yang tidak mungkin saya dapatakan di tempat lain. keistimewaan
itu secara kusus diberikan Tuhan kepada saya secara langsung dan kongkret.
HIDUP
KAUL ITU SEMANGAT “RELIGIUS 24 HINGGA TUJUH”
Meskipun
ber-cover-kan ziarah dan rekreasi,
namun tetep saja penghayatan keempat kaul tidak bisa terpisahkan. Ibaratanya
seperti semangat “religius 24 hingga tujuh”. Artinya Dimana pun dan kapanpun
saya adalah kaum biarawan. Jadi tidak ada istilah “dinas” dalam hidup membiara.
Saya hidup Penuh selama 24 jam dan sampai pada minggu-minggu selanjutnya.
Pasalahnya hidup ini adalah penyerahan hidup kepada Tuhan. meskipun saya masih
seorang novis, namun perlu dihayati jiwa semacam itu. Contonya adalah dengan
menghayati keempat kaul, diantaranya: kaul ketaatan, kaul kemiskinan, kaul
kemurnian dan kaul kemantapan.
1)
Kaul
ketaatan
|
|
2)
Kaul
kemiskinan
Kemiskinan
saya terletak dari materi ataupun keperibadian. Artinya, meskipun saya
mengikuti sebuah acara yang cukup besar dan mungkin membutuhkan banyak
pengeluaran dana. Namun tetap saja saya adalah pribadi yang tidak mempunyai
harta apapun. Saya berangkat hanya membawa jubah, botol air minum dan peralatan
doa. Selebihnya adalah pemberian dari seksi penanggungjawab acara. Jadi
meskipun cover-nya keren (ziarah dan
rekrasi), namun mengenai materi saya biasa-biasa aja (tidak ada yang berubah).
Kemiskinan
juga saya artikan sebagai penyerahan diri secara total. Artinya segala yang
saya punyai saya berikan untuk kebersamaan dalam acara itu. Misalakan cerita
dan pengalaman yang saya punyai saya bagikan kepada orang lain. Dengan demikian
saya sungguh-sungguh berserah dalam kemiskinan saya. Dilain kata, meskipun
miskin namun saya masih dapat berbagi berkat.
3)
Kaul
kemurnian
Pada ziarah
dan rekreasi itu, saya tidak hanya berangkat sendian. Maka sangat wajar apabila
saya juga terlibat dalam relasi dengan lain jenis. Hal ini bukanlah hal yang
asing bagi saya, karena sudah menjadi kebiasaan para frater/bruder OMI bergaul
dengan kaum muda (PPdM). Maka dalam pemaknaan dan penghayatan kaul kemurnian
harus diperluas.
Kaul kemurnian adalah jalan agar kaum biarawan
dapat membalas cinta Tuhan dengan berbagai kasih kepada sesama. Oleh karena
itu, relasi dan kedekatan kepada siapapun bukanlah menjadi masalah. Sebab,
motivasi awal dari keterlibatan itu adalah murni demi cinta persaudaraan
didalam Tuhan. lagi pula dalam keterlibatan ini, saya semakin termurnikan. Saya
terdorong mengembangkan cinta yang eksekutif bukan yang insklusif. Maka bukan
menjadi soal meskipun saya adalah seorang religius.
4)
Kaul
kemantapan
Sebagai
penanda bahwa saya turut menghayati keempat kaul itu adalah “kemantapan”. Saya
dengan sadar lakukan segalanya atas kehendak Bapa. Meskipun saya mengetahui
akan segala kelemahan yang saya lakukan. Namun saya percaya bahwa Tuhan selalu
beserta saya. Oleh karena itu, saya dengan mantap melangkahkan kaki menuju
tujuan hidup yang saya pilih. Prinsip saya seperti ajran St. Ignatius Loyola
“mengunakan jika mendukung kebaikan dan tidak menggunakan jika melanggar
kebaikan”.
TDAK ADA YANG
ASING BAGI SEORANG MISIONARIS
Meneurut
saya jiwa misionaris adalah jiwa yang tidak asing dengan segala keadaan. Hal
itu pun terdapat dalam ziarah dan
rekreasi yang saya alamai. Dari satu tempat menuju tempat lain semua orang
termasuk diri saya dapat menukmati suasana yang ada. Pandangan seperti inilah
yang perlu selalu saya tumbuhkan, yakni dapat hidup dimanapun. Saya yakin suatu
saat apabila saya telah menjadi imam, saya mempunyai kesempatan untuk tinggal
bersama orang-orang di pedalaman. Atas itulah saya mulai melatih diri agar
jangan sampai saya mempunyai sifat manaja.
Seorang
misionaris juga terlibat akan semua golongan. Artinya saya harus dapat membaur
pada golongan mana pun. Ini bukanlah hal yang mudah bagi diri saya, terlebih
atas kekurangan saya pada kecerdasan berkomunikasi. Oleh karena itu, sayab
menyadari akan pentingnya belajar berkomunikasi dengan baik
PENUTUP
Tuhan
adalah segalanya, tidak ada makhluk lain yang dapat menandinginya. Segala
ciptaan adalah karya keagungan tangannya, sudah selayakya kita memujinya. Gunakanlah
diri kita sebagaimana Tuhan memberikan kasih-Nya. Kini giliran kita mewartakah
karya Allah itu. Baik lewat kata-kata kita, perbuatan kita dan segala yang
diberikan Allah kepada kita. Maka dari itu, tidak ada alasan untuk kita tidak
bersyukur, karena segalanya itu berasal dari pada-Nya. Jadi syukurilah dengan
berbagi berkat. J
“Ini
aku, utuslah aku!”
(Yes.
6: 8)
Komentar
Posting Komentar
kata-kata adalah doa yg baik.